Title PERBANDINGAN METODE EKSTRAKSI MASERASI DAN REFLUKS TERHADAP AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL 96% DAUN NILAM (Pogostemon cablin Bent.) PADA BAKTERI PENYEBAB JERAWAT
Edition
Call Number KF 1835/19
ISBN/ISSN
Author(s) ADARA AFIFAH FADHILAH - Personal Name
Yunahara Farida - Personal Name
Nur Miftahurrohmah - Personal Name
Subject(s) Kimia Farmasi
Classification
Series Title
GMD Text
Language Indonesia
Publisher FFUP
Publishing Year 2019
Publishing Place New Jersey
Collation
Abstract/Notes ABSTRAK
(A). ADARA AFIFAH FADHILAH (2015210002)
(B). PERBANDINGAN METODE EKSTRAKSI MASERASI DAN REFLUKS TERHADAP AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL 96% DAUN NILAM (Pogostemon cablin Bent.) PADA BAKTERI PENYEBAB JERAWAT
(C). xii+ 85 Halaman; 12 Tabel; 14 Gambar; 15 Lampiran.
(D). Kata kunci : nilam, jerawat, maserasi, refluks, antibakteri.
(E). Jerawat merupakan penyakit permukaan kulit yang muncul saat kelenjar minyak terlalu aktif mengakibatkan pori-pori kulit tersumbat oleh timbunan lemak yang berlebihan sehingga bakteri penyebab jerawat berkembang dan memicu inflamasi. Di Indonesia terdapat berbagai macam tanaman yang dapat berkhasiat sebagai antijerawat salah satunya adalah daun nilam. Salah satu kandungan yang terdapat pada daun nilam (Pogostemon cablin Benth.) yang bersifat sebagai antibakteri adalah minyak atsiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas daun nilam sebagai antijerawat serta mengetahui ada atau tidaknya perbedaan metode ekstraksi terhadap aktivitas antibakteri dari ekstrak etanol 96% daun nilam. Daun nilam diekstraksi dengan dua metode yaitu maserasi dan refluks, selanjutnya dilakukan uji skrining fitokimia dan uji aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi cakram dengan kontrol positif kloramfenikol 30 μg/ml. Hasil skrining menunjukkan bahwa ekstrak daun nilam mengandung flavonoid, saponin, tanin, steroid, triterpenoid dan minyak atsiri. Hasil uji aktivitas antibakteri dari ekstrak daun nilam pada bakteri uji pada konsentrasi 50% memberikan daya hambat yang lebih baik pada ekstrak yang diperoleh secara maserasi dan refluks dimana pada bakteri Staphyloccous aureus ATCC 25923 memiliki daya hambat sebesar 22,57 mm untuk maserasi dan 18,84 mm untuk refluks. Pada Staphylococcus epidermidis ATCC 12228 memiliki daya hambat sebesar 19,31 mm untuk maserasi dan 17,67 mm untuk refluks. Pada Propionibacterium acnes ATCC 11827 memiliki daya hambat sebesar 14,93 mm untuk maserasi dan 13,85 mm untuk refluks. Berdasarkan penelitian ini terdapat perbedaan bermakna metode ekstraksi yang digunakan terhadap aktivitas antibakteri dan metode ekstraksi secara maserasi memberikan daya hambat yang lebih baik dibandingkan metode refluks.
(F). Daftar Rujukan : 38 buah (1998-2018)
(G). Dr. Yunahara Farida, M.Si, Apt., Nur Miftahurrohmah, S.Si, M.Si, Apt.
(H). 2019
Specific Detail Info
Image
File Attachment
LOADING LIST...
Availability
LOADING LIST...
  Back To Previous